Klaten – Keluhan nyeri otot menjadi salah satu persoalan yang cukup sering dialami kelompok lanjut usia dan dapat mengganggu kenyamanan serta aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut mendorong Universitas Widya Dharma Klaten (UWD) menghadirkan program pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan minyak biji kelor sebagai terapi komplementer.
Program bertajuk “Pemberdayaan Kelompok Masyarakat dalam Pemanfaatan Minyak Biji Kelor sebagai Terapi Komplementer untuk Penurunan Nyeri Otot” tersebut dilaksanakan bersama Kelompok Lansia Desa Tanjungan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun Anggaran 2026 yang memperoleh pendanaan melalui Program Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Program tidak hanya berorientasi pada pemberian produk kepada masyarakat, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, partisipasi, dan kemandirian kelompok lansia dalam mengelola kesehatan.
Potensi Biji Kelor sebagai Bahan Minyak
Kelor (Moringa oleifera) merupakan tanaman yang telah lama dikenal dan dimanfaatkan masyarakat. Tidak hanya bagian daunnya, biji kelor juga dapat diolah menjadi minyak yang memiliki potensi untuk berbagai kebutuhan.
Pemanfaatan minyak biji kelor sebagai terapi komplementer dalam program ini dikembangkan berdasarkan penelitian yang sebelumnya telah dilakukan oleh tim pelaksana terkait minyak biji kelor dan nyeri.
Hasil penelitian tersebut kemudian menjadi salah satu dasar bagi tim untuk mengembangkan pemanfaatan minyak biji kelor dalam konteks pemberdayaan masyarakat, khususnya kelompok lansia.
Meski demikian, minyak biji kelor dalam program ini ditempatkan sebagai terapi komplementer, bukan sebagai pengganti pemeriksaan ataupun pengobatan medis.
Masyarakat tetap diberikan pemahaman mengenai pentingnya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami nyeri yang menetap, berat, atau membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Tidak Sekadar Membagikan Produk
Program PKM Universitas Widya Dharma Klaten dirancang agar masyarakat tidak hanya menerima minyak biji kelor, tetapi juga memperoleh keterampilan dalam memahami dan mengelola keluhan nyeri otot secara tepat dan aman.
Tahapan kegiatan diawali dengan kunjungan dan koordinasi bersama mitra, kemudian dilanjutkan dengan identifikasi kondisi serta kebutuhan kelompok lansia. Hasil identifikasi tersebut menjadi dasar dalam penyusunan materi edukasi, pelatihan, serta penggunaan perangkat pendukung.
Tim pelaksana juga mempersiapkan sejumlah bahan dan peralatan untuk mendukung kegiatan, di antaranya minyak biji kelor, carrier oil, kemasan produk, lampu terapi inframerah portabel, serta berbagai bahan pendukung lainnya.
Pendekatan pemberdayaan dilakukan secara bertahap melalui proses identifikasi, edukasi, pelatihan, praktik, penerapan, pendampingan, dan evaluasi.
Melalui pendekatan tersebut, peserta diharapkan tidak hanya mengetahui manfaat dan cara pemanfaatan produk, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari secara bertanggung jawab.
Lansia Dilibatkan sebagai Pelaku Utama
Dalam pelaksanaan program, kelompok lansia tidak ditempatkan hanya sebagai penerima manfaat. Mereka dilibatkan secara aktif dalam proses edukasi, demonstrasi, praktik, hingga evaluasi.
Materi kegiatan disusun agar mudah dipahami dan disesuaikan dengan karakteristik peserta lansia. Materi mencakup pemahaman mengenai keluhan nyeri otot, faktor yang dapat memengaruhinya, pengelolaan secara nonfarmakologis, serta pemanfaatan minyak biji kelor sebagai terapi komplementer.
Aspek keamanan juga menjadi bagian penting dalam edukasi. Peserta diberikan pemahaman mengenai penggunaan minyak biji kelor secara tepat serta kondisi tertentu yang memerlukan pemeriksaan atau penanganan tenaga kesehatan.
Dengan demikian, program tidak hanya mendorong pemanfaatan bahan alam, tetapi juga meningkatkan literasi kesehatan masyarakat agar lansia mampu mengambil keputusan yang lebih tepat dalam menjaga kesehatannya.
Didukung Teknologi Sederhana
Selain pemanfaatan minyak biji kelor, program juga menggunakan lampu terapi inframerah portabel sebagai salah satu perangkat pendukung.
Teknologi tersebut diperkenalkan melalui proses edukasi dan pendampingan sehingga peserta memahami fungsi, cara penggunaan, serta prinsip keamanan dalam pemanfaatannya.
Tim pelaksana menempatkan teknologi tersebut sebagai bagian dari pendekatan pemberdayaan yang terintegrasi dengan produk, edukasi, pelatihan, praktik, dan pendampingan.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi diharapkan tidak sekadar menjadi perangkat yang diberikan kepada masyarakat, tetapi dapat dipahami dan digunakan secara tepat sesuai dengan tujuan program.
Mendorong Kemandirian Kelompok Lansia
Peningkatan keberdayaan kelompok lansia menjadi salah satu tujuan utama program PKM ini.
Keberhasilan program tidak hanya diukur berdasarkan jumlah peserta yang memperoleh informasi, tetapi juga melalui kemampuan peserta dalam memahami materi, melakukan praktik, berpartisipasi aktif, serta menerapkan pengetahuan yang diperoleh.
Karena itu, evaluasi dilakukan melalui pengukuran pengetahuan, observasi keterampilan, tingkat partisipasi, serta kemampuan peserta dalam menerapkan hasil kegiatan.
Hasil evaluasi tersebut nantinya dapat menjadi dasar bagi tim pelaksana untuk mengetahui perkembangan peserta sekaligus melakukan perbaikan dalam proses pendampingan berikutnya.
Mengembangkan Potensi Lokal untuk Pemberdayaan Kesehatan
Pemanfaatan minyak biji kelor dalam program ini menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan potensi bahan alam lokal sebagai bagian dari pemberdayaan kesehatan masyarakat.
Namun, tujuan utama program bukan semata-mata menghasilkan ataupun menggunakan produk minyak biji kelor. Lebih dari itu, program diarahkan untuk membangun kemampuan masyarakat agar memiliki pengetahuan, keterampilan, serta kesadaran dalam menjaga kesehatan secara mandiri dan bertanggung jawab.
Kolaborasi antara Universitas Widya Dharma Klaten dan Kelompok Lansia Desa Tanjungan diharapkan dapat menghasilkan model pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Perguruan tinggi dalam hal ini tidak hanya berperan dalam mentransfer pengetahuan, tetapi juga mendampingi masyarakat dalam proses penerapan, evaluasi, dan pengembangan keterampilan.
Program PKM Tahun Anggaran 2026 ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun model pemberdayaan kelompok lansia yang memadukan potensi lokal, edukasi kesehatan, terapi komplementer, teknologi sederhana, serta pendampingan berkelanjutan.
Tentang Program
Program: Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun Anggaran 2026
Judul: Pemberdayaan Kelompok Masyarakat dalam Pemanfaatan Minyak Biji Kelor sebagai Terapi Komplementer untuk Penurunan Nyeri Otot
Perguruan Tinggi: Universitas Widya Dharma Klaten
Mitra: Kelompok Lansia Desa Tanjungan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten
Pendanaan: Program Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM).
Tim Pelaksana:
Yudha Wahyu Putra, SSt.FT., M.Or
Amalia Solichati Rizqi, SSt.FT., M.Si
Zuyina Luklukaningsih, S.Psi., M.Psi
