![]() |
| Dokumentasi kegiatan pemanfaatan limbah sekam padi dan kotoran sapi sebagai media tanam hortikultura. (Sumber: Dokumentasi Pribadi) |
Penulis: Syahwila Zahra Ramadhani - Universitas Hasanuddin
GOWA - Tumpukan sekam padi dan kotoran sapi yang selama ini berpotensi menjadi persoalan lingkungan di Kelurahan Parangbanoa, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, kini didorong untuk dimanfaatkan menjadi media tanam hortikultura bernilai guna. Pemanfaatan sumber daya lokal tersebut menjadi bagian dari upaya pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi sirkular bagi warga.
Kelurahan Parangbanoa merupakan wilayah yang memiliki aktivitas pertanian dan peternakan rakyat. Aktivitas penggilingan padi menghasilkan sekam dalam jumlah cukup besar, sementara peternakan sapi milik warga juga menghasilkan limbah kotoran setiap hari.
Selama ini, sebagian limbah tersebut belum dikelola secara optimal. Sekam padi kerap dibakar secara terbuka, sedangkan kotoran sapi berpotensi menumpuk di sekitar lingkungan permukiman apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai persoalan lingkungan, mulai dari pencemaran udara akibat pembakaran hingga potensi pencemaran tanah dan sumber air. Di sisi lain, kedua jenis limbah tersebut sebenarnya memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat bagi kegiatan pertanian dan hortikultura.
Melalui social project yang diinisiasi oleh awardee Beasiswa BSI Unggulan, pemanfaatan sekam padi dan kotoran sapi kemudian dikembangkan sebagai media tanam hortikultura. Program ini menggunakan pendekatan partisipatif dengan melibatkan masyarakat dalam proses pengolahan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.
Media tanam dibuat menggunakan formulasi sederhana dengan perbandingan volume 1:1:1 antara tanah, arang sekam, dan kotoran sapi yang telah matang. Kombinasi tersebut dirancang untuk menghasilkan media tanam dengan struktur yang mendukung pertumbuhan berbagai tanaman hortikultura.
Sekam padi atau arang sekam berperan membantu menjaga porositas dan drainase media tanam sehingga tanah tidak mudah padat. Sementara itu, kotoran sapi yang telah melalui proses pematangan menjadi sumber bahan organik dan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
Proses pembuatan media tanam diawali dengan menyiapkan bahan dan peralatan yang diperlukan. Tanah terlebih dahulu dibersihkan dari kerikil dan gulma, kemudian digemburkan serta dijemur selama satu hingga dua hari untuk mengurangi kadar air.
Kotoran sapi yang digunakan juga dipastikan telah matang, dengan kondisi tidak lagi berbau menyengat, memiliki suhu yang stabil, dan berwarna cokelat kehitaman. Setelah seluruh bahan siap, tanah, arang sekam, dan kotoran sapi ditakar menggunakan perbandingan yang sama sebelum dicampurkan secara merata.
Campuran tersebut kemudian diinkubasi selama sekitar tiga hingga tujuh hari di tempat yang teduh. Selama masa pematangan, media sesekali dibolak-balik untuk menjaga kestabilan suhu sebelum dilakukan pengujian sederhana terhadap kelembapan dan kemampuan drainasenya.
Setelah melalui proses pematangan, media tanam siap digunakan untuk budidaya tanaman hortikultura, termasuk tanaman pekarangan seperti cabai, tomat, dan berbagai jenis sayuran. Media yang telah dihasilkan juga dapat dikemas dalam polybag atau karung untuk dimanfaatkan maupun didistribusikan kepada masyarakat.
Pemanfaatan limbah tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengurangi penumpukan sekam padi dan kotoran sapi di lingkungan, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi sirkular. Produk media tanam yang telah dikemas berpotensi dipasarkan kepada petani, kelompok tani, maupun masyarakat yang memiliki hobi berkebun.
Keberlanjutan program menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan kegiatan ini. Pengelolaan limbah diharapkan dapat melibatkan Karang Taruna, Kelompok Wanita Tani (KWT), maupun PKK, sekaligus membangun kerja sama antara pemilik penggilingan padi, peternak sapi, dan kelompok masyarakat.
Melalui pemanfaatan sekam padi dan kotoran sapi sebagai media tanam hortikultura, Kelurahan Parangbanoa didorong untuk mengubah limbah yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan menjadi sumber daya bernilai guna. Langkah ini diharapkan dapat mendukung lingkungan yang lebih lestari sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru berbasis potensi lokal masyarakat.
