| Mahasiswa UNJ mengembangkan PsyCare, chatbot AI yang dirancang mendukung layanan Bimbingan dan Konseling bagi siswa. |
JAKARTA — Sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengembangkan PsyCare, chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk membantu memperkuat layanan Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah.
PsyCare dikembangkan sebagai ruang awal bagi siswa untuk menyampaikan cerita dan perasaan secara reflektif. Di sisi lain, sistem tersebut juga membantu guru BK mendapatkan gambaran awal mengenai permasalahan yang dihadapi siswa.
Inovasi ini dikembangkan melalui skema Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) 2026. Pengembangan PsyCare didanai oleh Kementerian Pendidikan dan melibatkan mahasiswa dari sejumlah bidang keilmuan di UNJ.
Gagasan tersebut berangkat dari kondisi siswa yang terkadang masih merasa ragu untuk menyampaikan masalah secara langsung kepada guru BK. Karena itu, tim mencoba menghadirkan pendekatan berbasis teknologi yang dapat menjadi pintu masuk sebelum siswa memperoleh pendampingan lebih lanjut.
Salah satu fitur utama PsyCare adalah Curhat Reflektif. Melalui fitur ini, siswa dapat menuliskan cerita mengenai perasaan atau persoalan yang sedang mereka alami.
Percakapan tersebut kemudian diolah oleh sistem menjadi informasi ringkas berupa kecenderungan sentimen dan topik permasalahan. Informasi yang diterima guru BK bukan berupa isi curhat siswa secara utuh, melainkan data indikatif yang dapat membantu melihat pola persoalan yang muncul di lingkungan sekolah.
Pendekatan itu dirancang dengan mempertimbangkan batas privasi siswa. Guru BK dapat memanfaatkan informasi dari sistem untuk melihat gambaran permasalahan, menentukan prioritas tindak lanjut, menyediakan materi edukasi yang relevan, hingga menjadwalkan sesi konseling apabila dibutuhkan.
Pengembangan PsyCare juga tidak terlepas dari persoalan kesehatan mental yang dihadapi remaja. Berdasarkan Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, sekitar 2,45 juta remaja Indonesia mengalami gangguan mental dalam satu tahun terakhir.
Temuan tersebut menunjukkan pentingnya penguatan dukungan bagi siswa di lingkungan pendidikan. Layanan BK dinilai memiliki peran penting dalam memberikan pendampingan sejak persoalan siswa mulai teridentifikasi.
Untuk menguji penerapannya, tim PsyCare melakukan uji coba langsung di MAN 3 Jakarta pada 28 Juli 2026. Uji coba berlangsung selama 14 hari dan melibatkan siswa dari tiga kelas.
Selama uji coba, para siswa menggunakan fitur Curhat Reflektif untuk menceritakan pengalaman dan berbagai persoalan yang mereka hadapi. Dari penggunaan tersebut, tim menemukan sejumlah tema yang cukup sering muncul.
Beberapa di antaranya yakni tekanan akademik, kelelahan emosional, dan persoalan keluarga. Guru BK juga mencoba fitur tindak lanjut dalam sistem, termasuk penjadwalan konseling dan penyediaan materi edukasi mengenai kesehatan mental.
Hasil uji coba menunjukkan respons positif dari siswa maupun guru BK. Bagi siswa, ruang curhat berbasis digital dinilai dapat menjadi alternatif awal untuk menyampaikan cerita sebelum mereka memutuskan mengikuti konseling secara langsung.
Sementara bagi guru BK, PsyCare dinilai berpotensi membantu memperoleh gambaran awal mengenai persoalan yang dialami siswa. Informasi tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan bentuk pendampingan selanjutnya.
Meski menggunakan teknologi AI, PsyCare tidak ditujukan untuk menggantikan peran guru BK maupun tenaga profesional di bidang kesehatan mental.
Tim menempatkan PsyCare sebagai sarana pendukung yang membantu membuka akses awal bagi siswa sekaligus memberikan informasi tambahan kepada guru BK dalam proses pendampingan.
"PsyCare kami kembangkan sebagai jembatan antara siswa dan layanan BK. Kami ingin memberikan ruang awal yang lebih nyaman bagi siswa untuk bercerita, sekaligus membantu guru BK mendapatkan gambaran mengenai permasalahan yang muncul sehingga dapat ditindaklanjuti secara lebih tepat," ujar Gilang Ramadhan, Ketua Tim PKM-KC PsyCare dari Program Studi Sosiologi UNJ.
Tim PsyCare terdiri dari Gilang Ramadhan dari Sosiologi FISH 2023 sebagai ketua, Desandro Bagus Dwirizky dari Bimbingan dan Konseling FIP 2024, Muhammad Azfa Hermawan dari Ilmu Komputer FMIPA 2024, Reynaldo Yusellino dari Ilmu Komputer FMIPA 2025, serta Zaki Andriansa dari Ilmu Komputer FMIPA 2025.
Pengembangan tim tersebut berada di bawah bimbingan Mohamad Saripudin, M.Pd. dari Program Studi Bimbingan dan Konseling FIP UNJ.
Kolaborasi lintas disiplin menjadi salah satu aspek dalam pengembangan PsyCare. Anggota tim berasal dari bidang sosiologi, bimbingan dan konseling, serta ilmu komputer sehingga pengembangan sistem dilakukan dengan mempertimbangkan aspek sosial, kebutuhan layanan BK, dan teknologi.
Tim berharap PsyCare dapat menjadi salah satu contoh pemanfaatan AI secara bijak di bidang pendidikan. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu sekolah memperkuat layanan pendampingan siswa sekaligus beradaptasi dengan kebutuhan generasi di era digital.
Dengan pengembangan lebih lanjut, PsyCare diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan BK yang lebih adaptif, mudah diakses, dan mampu membantu sekolah mengenali kebutuhan siswa sejak lebih awal.