![]() |
| Srawung Wellness Dialogue menjadi bagian Road to JCWF 2026 dengan mengusung RECONNECT, gerakan menghubungkan kembali manusia, budaya, alam, dan wellbeing. |
YOGYAKARTA — Pengembangan wisata berbasis kesehatan dan kesejahteraan atau wellness tourism di Yogyakarta dinilai perlu mengedepankan keterhubungan antara manusia, budaya, alam, dan destinasi. Gagasan tersebut menjadi pembahasan utama dalam Srawung Wellness Dialogue yang digelar di Ruang Pamer Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta, Sabtu (3/10/2026).
Dialog yang merupakan bagian dari Srawung Rasa Nuswantara II ini mengangkat tema “Wellness Tourism Ecosystem — Menghubungkan Destinasi • Budaya • Alam • Manusia”.
Acara tersebut menghadirkan GKR Bendara, Inisiator Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026, dan Fadli Fahmi Ali, Co-founder & CEO Werkudara Group. Diskusi dipandu Agus Budi Rachmanto, Sekretaris Umum DPD PUTRI DIY.
Forum ini menjadi ruang diskusi mengenai arah pengembangan pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi juga menawarkan pengalaman yang lebih mendalam dan bermakna.
Dalam konteks Yogyakarta, pengembangan wellness tourism dinilai memiliki potensi besar karena didukung kekayaan budaya, tradisi, seni, kuliner, alam, serta filosofi kehidupan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.
Kekayaan tersebut dapat menjadi fondasi untuk menghadirkan pengalaman wisata yang menghubungkan wisatawan dengan lingkungan, budaya lokal, dan kehidupan masyarakat.
Budaya, misalnya, tidak hanya menjadi pelengkap atau daya tarik visual bagi wisatawan. Lebih dari itu, budaya dapat dihadirkan sebagai bagian dari pengalaman yang memberikan pemahaman mengenai nilai-nilai dan kearifan lokal.
Begitu pula dengan alam yang tidak sekadar menjadi latar perjalanan, tetapi juga ruang untuk menghadirkan ketenangan dan keseimbangan.
Kolaborasi Jadi Kunci Pengembangan Wellness Tourism
Srawung Wellness Dialogue juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem wellness tourism. Pengembangan sektor ini membutuhkan keterlibatan pemerintah, pelaku industri pariwisata, komunitas, akademisi, media, hingga masyarakat setempat.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempertemukan pengetahuan lokal dengan inovasi, sekaligus menciptakan pengalaman wisata yang memiliki nilai sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan.
Dalam pendekatan ini, wisatawan tidak hanya diposisikan sebagai konsumen, tetapi juga sebagai individu yang mencari pengalaman dan makna baru melalui perjalanan.
Dengan demikian, pengembangan wisata tidak semata-mata mengejar peningkatan jumlah kunjungan, melainkan turut memperhatikan kualitas pengalaman wisatawan dan keberlanjutan kehidupan masyarakat di destinasi.
Menuju Jogja Cultural Wellness Festival 2026
Srawung Wellness Dialogue menjadi salah satu rangkaian Road to Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 6–8 November 2026.
Mengusung tema “RECONNECT — Reconnecting People, Culture & Wellbeing”, festival ini membawa pesan tentang pentingnya membangun kembali hubungan antara manusia, budaya, dan kesejahteraan.
Konsep RECONNECT mengajak masyarakat untuk kembali mengenali identitas budaya, menjaga hubungan dengan alam, mempererat interaksi sosial, serta menemukan keseimbangan dalam kehidupan.
Keterhubungan tersebut diharapkan menjadi landasan dalam menciptakan pengalaman wisata yang tidak hanya memberikan manfaat bagi pengunjung, tetapi juga mendukung kehidupan masyarakat dan pelestarian budaya lokal.
Melalui rangkaian kegiatan menuju JCWF 2026, penyelenggara berupaya membangun gerakan pengembangan wellness tourism yang berakar pada karakter dan kekayaan Yogyakarta.
Srawung Jadi Ruang Membangun Gerakan Bersama
Semangat srawung atau perjumpaan menjadi salah satu nilai yang diangkat dalam kegiatan ini. Melalui pertemuan dan dialog, berbagai pihak diharapkan dapat saling bertukar gagasan, membangun pemahaman, serta membuka peluang kerja sama.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan nilai sosial, budaya, dan lingkungan.
Melalui Srawung Rasa Nuswantara II dan rangkaian menuju Jogja Cultural Wellness Festival 2026, Yogyakarta diharapkan dapat memperkuat posisinya sebagai destinasi wellness tourism yang menawarkan pengalaman berbasis budaya dan kearifan lokal.
Festival yang dijadwalkan berlangsung pada 6–8 November 2026 itu diharapkan menjadi ruang perjumpaan sekaligus momentum untuk memperluas kolaborasi dalam mengembangkan pariwisata yang lebih berkelanjutan dan bermakna.
