Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad
Notice Pilihan

Gara-Gara FOMO, Rekening Jadi 'Insecure': Saatnya Gen Z Belajar Risk Management ala Perbankan

Foto Ilustrasi: FOMO dan Manajemen Risiko Keuangan: Saatnya Gen Z Belajar Mengelola Keuangan Pribadi ala Perbankan.

Kitanotice, Opini - Pernah nggak sih, baru saja awal bulan gajian tapi uangnya mendadak gone seketika gara-gara ikutan tren FOMO ngopi di tempat estetik atau kalap checkout belanjaan? Giliran akhir bulan datang, dompet mendadak megap-megap dan rekening langsung terasa insecure. Tapi, pernahkah kita berpikir, bagaimana bisa bank yang mengelola uang triliunan rupiah setiap hari tetap berdiri kokoh tanpa takut bangkrut? Jawabannya tentu bukan karena bank punya cara instan, melainkan karena mereka menerapkan disiplin ilmu bernama Bank Risk Management (Manajemen Risiko Bank).

Bank Juga Bisa Insecure (Mengenal Risiko Perbankan)

Kalau dicermati, bank sebenarnya punya kemiripan dengan anak muda yang sangat selektif dalam memilih lingkungan pertemanan. Pasalnya, salah memilih lingkaran pertemanan tentu berisiko membawa kerugian besar. Di ranah perbankan, proses "menyaring" dan mengantisipasi ancaman ini diatur dalam prinsip manajemen risiko.

Bedanya, kalau kita paling banter hanya pusing akibat saldo menipis di akhir bulan, bank mengurus dana masyarakat dalam jumlah raksasa. Itulah sebabnya institusi keuangan wajib meredam berbagai potensi masalah utama, di antaranya:

  • Risiko Kredit (Credit Risk): Skenario paling gampang dibayangkan adalah saat kita meminjamkan uang ke teman tongkrongan yang mendadak hobi menghilang ketika ditagih. Bank pun sangat menghindari risiko serupa jika asal menyalurkan pinjaman. Oleh karena itu, diterapkan sistem penilaian atau credit scoring yang ketat guna memastikan kelayakan pihak peminjam.

  • Risiko Pasar & Likuiditas (Market & Liquidity Risk): Situasi ini menyerupai kondisi panik ketika seluruh anggota kelompok arisan berniat menarik uang kas secara serentak di hari yang sama, padahal jumlah kas sedang menipis. Apabila bank gagal menyediakan uang tunai cadangan, mereka pasti akan kewalahan menghadapi tarikan dana massal dari nasabah.

Dari gambaran tersebut, terlihat jelas bahwa institusi keuangan yang berskala besar saja membutuhkan perhitungan matang untuk melindungi keuangannya. Lantas, mengapa kita sebagai generasi muda sering kali ceroboh berutang atau belanja tanpa memperhitungkan risikonya?

Saatnya Gen Z Punya Risk Management Sendiri

Apabila bank saja memiliki standar operasional yang ketat dalam menekan risiko, sudah sepatutnya kita meniru pola pikir tersebut untuk mengelola keuangan pribadi. Supaya rekening tidak mudah insecure akibat terjebak FOMO, beberapa langkah mitigasi ala perbankan ini layak dicoba oleh Gen Z:

  • Menetapkan Batas Limit dan Menyaring Keinginan (Adaptasi Credit Risk): Layaknya bank yang memiliki standar kelayakan kredit, kita juga perlu memberlakukan batasan diri sebelum menekan tombol pembelian atau memakai layanan paylater. Jangan sampai gaya hidup yang terlalu santai justru menjerumuskan diri sebagai budak cicilan.

  • Mempersiapkan Dana Darurat sebagai Jaring Pengaman (Adaptasi Liquidity Risk): Bank senantiasa menyediakan cadangan kas guna menghadapi situasi mendesak. Begitu pula dengan kita, memiliki tabungan darurat yang bersifat mutlak dan tidak boleh diubah untuk keperluan konsumtif adalah sebuah kewajiban agar tidak panik di masa-masa sulit.

Pada akhirnya, mempelajari manajemen risiko perbankan bukan sekadar menghafal teori demi mengejar nilai ujian semata. Lebih dari itu, ilmu ini menjadi tameng mental agar kita lebih bijak menghadapi dinamika finansial di era digital.

Kesimpulan

Oleh karena itu, ketimbang terus-menerus mengeluhkan keadaan finansial yang pas-pasan, mari mulai membangun "sistem peringatan dini" atau manajemen risiko dalam pengelolaan dompet pribadi. Dengan begitu, kondisi rekening tetap terjaga, hidup terasa lebih tenang, dan tugas mata kuliah ini pun tuntas dengan hasil yang memuaskan!

Daftar Pustaka

  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2016). Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 18/POJK.03/2016 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum. OJK.

  • Ikatan Bankir Indonesia (IBI). (2015). Managing Compliance and Risk in Commercial Bank. PT Gramedia Pustaka Utama.

  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2024). Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK). OJK.

Oleh:

  • Nama: Azzahrah Dinda Zalfaa Salsabiila

  • NIM: 241010500488

  • Program Studi: Manajemen S1

  • Universitas: Universitas Pamulang

  • Mata Kuliah: Bank Risk Management

  • Dosen Pengampu: Ratna Dumilah, S.E., M.M.

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Gara-Gara FOMO, Rekening Jadi 'Insecure': Saatnya Gen Z Belajar Risk Management ala Perbankan
  • Gara-Gara FOMO, Rekening Jadi 'Insecure': Saatnya Gen Z Belajar Risk Management ala Perbankan
  • Gara-Gara FOMO, Rekening Jadi 'Insecure': Saatnya Gen Z Belajar Risk Management ala Perbankan
  • Gara-Gara FOMO, Rekening Jadi 'Insecure': Saatnya Gen Z Belajar Risk Management ala Perbankan
  • Gara-Gara FOMO, Rekening Jadi 'Insecure': Saatnya Gen Z Belajar Risk Management ala Perbankan
  • Gara-Gara FOMO, Rekening Jadi 'Insecure': Saatnya Gen Z Belajar Risk Management ala Perbankan
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad