![]() |
| Keynote Speaker Adi Nur Cahyono dari Universitas Negeri Semarang saat menyampaikan materi dalam sebuah kegiatan. |
Kitanotice, Yogyakarta – Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar Kalijaga International Conference on Education (KICE) 2026. Konferensi internasional ini membahas sejumlah isu pendidikan masa depan, mulai dari pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), pendidikan inklusif, hingga inovasi pembelajaran matematika.
KICE 2026 digelar pada Selasa, 15 September 2026, di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Konferensi mengusung tema “Innovation Toward Education: Shaping the Future of Learning”.
Kegiatan berlangsung secara hybrid. Peserta dapat mengikuti konferensi secara langsung di Convention Hall maupun melalui platform daring.
Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari Indonesia. Sejumlah peserta dari berbagai negara turut ambil bagian dengan mempresentasikan gagasan, pengalaman, dan hasil penelitian di bidang pendidikan.
Konferensi dibuka dengan sambutan Dekan FITK UIN Sunan Kalijaga. Dalam sambutannya, Dekan menyoroti pentingnya inovasi pendidikan untuk menghadapi perubahan teknologi dan dinamika sosial yang terus berkembang.
Menurutnya, kebutuhan peserta didik juga semakin beragam. Karena itu, pendidikan dituntut tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga mampu menghadirkan pendekatan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Salah satu fokus utama KICE 2026 adalah perkembangan teknologi pendidikan, khususnya penggunaan AI dalam proses pembelajaran.
Dalam sesi keynote, Elizabeth Koh Ruilin membawakan materi berjudul “Reframing VUCA in Education: Navigating Learning Through AI and Techno-Pedagogical Innovation”.
Materi tersebut mengangkat konsep VUCA yang menggambarkan kondisi dunia yang semakin volatile, uncertain, complex, dan ambiguous. Situasi tersebut dinilai turut memberikan tantangan baru bagi dunia pendidikan.
Perkembangan AI dan teknologi digital membuat lembaga pendidikan perlu memikirkan kembali cara pembelajaran dirancang dan dilaksanakan.
Namun, integrasi teknologi tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat digital. Penggunaan teknologi juga perlu dibarengi inovasi pedagogis agar mampu memberikan dampak nyata terhadap proses dan pengalaman belajar peserta didik.
Dengan pendekatan techno-pedagogical innovation, teknologi diharapkan tidak sekadar menjadi alat tambahan dalam pembelajaran, tetapi dapat terintegrasi dengan strategi pengajaran yang sesuai.
Selain membahas AI dan teknologi, KICE 2026 juga memberikan perhatian pada isu pendidikan inklusif.
Hal tersebut menjadi fokus paparan keynote speaker Dianne Chambers melalui materi “Pathways to Inclusive, Equitable, and Empowering Learning for All”.
Chambers menekankan pentingnya membangun sistem pendidikan yang inklusif, adil, dan memberdayakan seluruh peserta didik.
Pendidikan masa depan dinilai perlu memastikan setiap individu memperoleh kesempatan yang setara untuk belajar dan berkembang. Perbedaan latar belakang maupun kondisi peserta didik tidak seharusnya menjadi penghalang untuk mendapatkan akses terhadap pembelajaran yang berkualitas.
Pembahasan mengenai inklusi tersebut menjadi bagian penting dalam melihat masa depan pendidikan. Inovasi pendidikan tidak hanya berbicara mengenai teknologi, tetapi juga mengenai bagaimana sistem pembelajaran dapat menjangkau dan memberdayakan seluruh peserta didik.
Sementara itu, aspek lain yang diangkat dalam KICE 2026 adalah inovasi pembelajaran matematika.
Adi Nur Cahyono menjadi keynote speaker ketiga dengan materi “Learning Mathematics All Around Us: From Real-World Trails to Immersive Digital Futures”.
Dalam paparannya, pembelajaran matematika dilihat sebagai sesuatu yang tidak terbatas pada ruang kelas. Konsep matematika dapat ditemukan dalam berbagai aktivitas dan persoalan kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut membuka peluang bagi pembelajaran matematika untuk dikembangkan melalui pengalaman nyata. Peserta didik dapat diajak melihat hubungan antara konsep matematika dengan lingkungan serta berbagai persoalan yang mereka temui dalam kehidupan.
Perkembangan teknologi digital juga memberikan peluang baru bagi pembelajaran matematika. Pengalaman belajar dapat dikembangkan menuju pembelajaran yang lebih interaktif dan imersif.
Selain sesi keynote, KICE 2026 juga menjadi ruang bagi peneliti dan akademisi untuk mempresentasikan hasil penelitian mereka.
Panitia menyediakan 11 ruang untuk sesi paralel offline dan 15 ruang untuk sesi paralel online.
Beragam penelitian yang dipresentasikan dalam sesi tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan berbagai perspektif mengenai perkembangan pendidikan.
Melalui forum internasional ini, FITK UIN Sunan Kalijaga tidak hanya mendorong pertukaran gagasan, tetapi juga memperluas jejaring akademik dengan institusi dan peneliti dari berbagai negara.
KICE 2026 diharapkan dapat menjadi ruang untuk memperkuat kerja sama akademik sekaligus membuka peluang kolaborasi penelitian dan pengembangan pendidikan.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat melibatkan UIN Sunan Kalijaga dengan berbagai institusi mitra, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dengan mengangkat isu AI dan teknologi pendidikan, inklusi, serta pembelajaran matematika berbasis kehidupan nyata dan teknologi digital, KICE 2026 menjadi bagian dari upaya mendorong inovasi pendidikan yang mampu menjawab tantangan masa depan.
