| Gambar Seseorang Yang Sedang Berbicara Di Depan Umum |
Kitanotice, Opini - Kemampuan berkomunikasi merupakan salah satu keterampilan yang semakin penting dalam kehidupan akademik maupun dunia kerja. Seseorang tidak hanya dituntut mampu memahami informasi, tetapi juga harus mampu menyampaikan gagasan secara jelas, percaya diri, dan mudah dipahami oleh orang lain. Salah satu bentuk kemampuan komunikasi yang banyak digunakan dalam berbagai situasi adalah public speaking, yaitu kemampuan menyampaikan pesan secara lisan di hadapan audiens. Kemampuan ini diperlukan dalam kegiatan seperti presentasi, diskusi, seminar, wawancara kerja, rapat, hingga penyampaian informasi kepada masyarakat.
Public speaking merupakan kemampuan
menyampaikan gagasan, informasi, atau pesan kepada orang lain secara lisan
dengan tujuan agar pesan dapat dipahami dengan baik. Kemampuan ini tidak hanya
berkaitan dengan keberanian berbicara di depan banyak orang, tetapi juga
mencakup kemampuan menyusun pesan, memilih bahasa yang sesuai, menggunakan
intonasi dan bahasa tubuh, serta menyesuaikan cara penyampaian dengan audiens.
Karena itu, public speaking menjadi salah satu keterampilan komunikasi yang
dapat digunakan dalam kegiatan akademik maupun dunia kerja.
Salah satu persoalan yang sering muncul
dalam public speaking adalah rasa gugup dan kurang percaya diri. Penelitian
Rengganawati (2024) terhadap 200 mahasiswa berusia 17–22 tahun menunjukkan
bahwa kecemasan berbicara di depan umum banyak muncul ketika mahasiswa harus
berbicara dengan orang yang memiliki posisi lebih tinggi, melakukan pidato,
maupun menghadapi wawancara. Kecemasan tersebut dapat ditandai dengan detak
jantung yang meningkat, gemetar, rasa tidak aman, dan kebingungan saat
menyampaikan pesan.
Data yang lebih baru juga menunjukkan bahwa
persoalan tersebut masih relevan. Penelitian Silalahi, Mardani, dan Christanti
(2026) terhadap 225 mahasiswa Ilmu Komunikasi semester pertama menemukan bahwa
60% responden berada pada tingkat kecemasan public speaking sedang, 12,9%
berada pada tingkat tinggi, dan 27,1% berada pada tingkat rendah. Penelitian
tersebut juga menemukan bahwa mahasiswa yang pernah mempelajari public speaking
sebelum masuk perguruan tinggi memiliki tingkat kecemasan yang secara signifikan
lebih rendah dibandingkan mahasiswa yang belum pernah mempelajarinya.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa
kepercayaan diri dalam berbicara tidak hanya berkaitan dengan keberanian secara
alami, tetapi juga dapat dibangun melalui pengalaman dan latihan. Dalam
penelitian terhadap 109 mahasiswa, Putri, Sujadi, dan Ahmad (2024) menemukan
adanya hubungan negatif yang signifikan antara self-efficacy atau efikasi diri
dengan kecemasan public speaking. Artinya, semakin baik keyakinan seseorang
terhadap kemampuannya sendiri, semakin rendah kecemasan yang dirasakan ketika
berbicara di depan umum.
Meningkatkan Kemampuan melalui Latihan
Kepercayaan diri dalam public speaking
dapat dibangun melalui latihan yang dilakukan secara bertahap. Latihan dapat
dimulai dari berbicara dalam kelompok kecil, melakukan presentasi singkat,
merekam dan mengevaluasi cara berbicara, hingga tampil di hadapan audiens yang
lebih besar. Persiapan materi juga menjadi bagian penting karena penguasaan
materi dapat membantu pembicara mengurangi rasa takut kehilangan arah ketika
menyampaikan pesan.
Penelitian Silalahi dan rekan-rekan pada
2026 menunjukkan bahwa 38,7% mahasiswa dalam penelitiannya pernah mendapatkan
pengalaman belajar public speaking sebelum kuliah, dan kelompok tersebut
memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah. Namun, 83,9% pengalaman belajar
yang dimiliki mahasiswa berasal dari seminar atau webinar yang bersifat pasif,
sehingga peneliti menekankan pentingnya pembelajaran yang lebih aktif dan
memberikan kesempatan praktik secara langsung.
Selain persiapan dan praktik, kemampuan
mengelola kecemasan juga penting. Penelitian terhadap mahasiswa Universitas
Negeri Makassar pada 2024 menunjukkan bahwa pelatihan asertif efektif
menurunkan kecemasan public speaking. Penelitian tersebut melibatkan 20
mahasiswa dan menggunakan desain eksperimen pretest-posttest. Hasil uji
menunjukkan nilai signifikansi 0,00 < 0,05, sehingga pelatihan yang
diberikan menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam tingkat kecemasan
peserta.
Public Speaking dan Komunikasi Efektif
Kepercayaan diri saja belum cukup untuk
menghasilkan komunikasi yang efektif. Seorang pembicara juga harus mampu
menyampaikan pesan secara terstruktur, menggunakan bahasa yang mudah dipahami,
memperhatikan respons audiens, serta menggunakan intonasi, ekspresi wajah,
kontak mata, dan bahasa tubuh secara tepat. Dengan demikian, keberhasilan
public speaking tidak hanya diukur dari keberanian seseorang tampil di depan
umum, tetapi juga dari sejauh mana pesan dapat diterima dan dipahami oleh
audiens.
Dalam lingkungan pendidikan, kemampuan
komunikasi efektif membantu mahasiswa menyampaikan ide dalam presentasi,
diskusi, seminar, maupun kegiatan organisasi. Sementara dalam dunia kerja,
kemampuan tersebut dapat digunakan ketika melakukan presentasi, wawancara,
rapat, memberikan arahan kepada tim, bernegosiasi, maupun berinteraksi dengan
pelanggan. Oleh karena itu, public speaking dapat dipandang sebagai
keterampilan yang mendukung kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara
lebih percaya diri, terstruktur, dan efektif.
PENUTUP
Public speaking merupakan keterampilan
komunikasi yang tidak hanya berkaitan dengan keberanian berbicara di depan
umum, tetapi juga kemampuan menyampaikan pesan secara terstruktur, jelas, dan
mudah dipahami. Berdasarkan berbagai penelitian, kecemasan dalam berbicara di
depan umum masih menjadi persoalan yang cukup banyak dialami, khususnya oleh
mahasiswa. Penelitian terhadap 225 mahasiswa pada 2026 menunjukkan bahwa 60%
responden berada pada tingkat kecemasan public speaking sedang dan 12,9% berada
pada tingkat tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan
kemampuan public speaking secara berkelanjutan.
Kepercayaan diri memiliki keterkaitan
dengan kemampuan seseorang dalam menghadapi situasi public speaking. Pengalaman
belajar, latihan, penguasaan materi, dan peningkatan self-efficacy dapat
membantu seseorang mengurangi kecemasan dan meningkatkan keberanian untuk
tampil. Selain itu, komunikasi yang efektif membutuhkan kemampuan menggunakan
bahasa verbal maupun nonverbal secara tepat agar pesan dapat diterima oleh
audiens.
Dengan demikian, kemampuan public speaking
dapat dibangun melalui proses yang bertahap dan konsisten. Semakin banyak
seseorang memperoleh kesempatan untuk berlatih dan tampil, semakin besar pula
pengalaman yang dapat digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri, mengelola
kecemasan, dan menyampaikan pesan secara efektif. Keterampilan tersebut menjadi
penting untuk mendukung aktivitas akademik, organisasi, maupun kebutuhan
komunikasi di dunia kerja.
Penulis : Alvina Rahmadini, NIM 231010505153, Universitas Pamulang