![]() |
| Harry Yulianto |
Kitanotice, Opini - Setiap
pagi, dapur rumah tangga di Makassar, tanpa disadari, menjadi titik awal dari
sebuah 'bencana' yang tidak terlihat. Sisa nasi, kulit buah, potongan sayur,
dan ampas kopi dibungkus dalam kantong plastik, lalu dibuang ke tempat sampah.
Warga tak menyadari bahwa tumpukan kecil itu, jika dikalikan ratusan ribu rumah
tangga, menjadi beban raksasa yang mengancam TPA Antang.
Persoalannya,
TPA Antang kini hanya tersisa sekitar 22 hektare, dengan ketinggian sampah
mendekati 20 meter dan volume yang diperkirakan mencapai 3 juta ton. Setiap
hari, tempat itu masih menelan 800 hingga 1.000 ton sampah. Namun, persoalan
sesungguhnya bukan sekadar kapasitas ruang yang kian menyusut.
Sekitar
54 persen sampah yang masuk ke TPA Makassar merupakan sampah organik yang
berasal dari sisa makanan, sayuran, buah-buahan, dan bahan lain yang mudah
terurai. Sampah organik yang membusuk di TPA menghasilkan air lindi dan gas
metana yang berpotensi mencemari lingkungan serta memicu kebakaran di musim
kemarau.
Pada konteks
itulah, ketika Menko Pangan meninjau langsung TPA Antang pada Februari 2026 dan
menyerukan pengurangan sampah dari hulu, pesan itu menjadi pengakuan bahwa
pendekatan hilir selama ini tidak cukup. Rumah tangga, bukan pemerintah semata,
justru menjadi kunci. Dan kunci itu adalah kompos dan eco-enzyme yang sesungguhnya sudah tersedia di dapur kita sendiri.
Rumah Tangga sebagai Ujung Tombak
Selama
bertahun-tahun, kebijakan persampahan Makassar lebih banyak berfokus pada
hilir: menambah armada, memperluas TPA, dan menyiapkan teknologi pengolahan
sampah menjadi energi listrik (PSEL) yang baru ditargetkan beroperasi pada
2029. Pendekatan hilir semacam ini tidak akan pernah cukup jika rumah tangga
terus mencampur semua sampahnya.
Perubahan
mulai terjadi sejak 1 Agustus 2026, ketika Pemkot Makassar resmi menghentikan
praktik open dumping di TPA Antang
dan mewajibkan pemilahan sampah sejak dari sumbernya. TPA hanya akan menerima
sampah residu. Kebijakan ini diperkuat melalui Surat Edaran Wali Kota Makassar
Nomor 1 Tahun 2026 dan Instruksi Wali Kota Nomor 3 Tahun 2026 yang mewajibkan
warga memilah sampah dari rumah.
Kebijakan
ini bukan hanya perubahan teknis, melainkan pergeseran paradigma: rumah tangga
harus menjadi ujung tombak pengelolaan sampah organik. Kebijakan penghentian open dumping terbukti membawa perubahan
nyata. Volume sampah yang masuk ke TPA Antang turun dari sekitar 1.000 ton per
hari menjadi 200--300 ton per hari. Angka ini bukan sekadar statistik,
melainkan bukti bahwa ketika rumah tangga dilibatkan sebagai ujung tombak,
beban kota yang selama ini terasa mustahil diselesaikan justru menyusut secara
signifikan.
Kompos: Mengubah Sisa Makanan Menjadi Pupuk
Pengomposan
adalah solusi paling sederhana dan paling mudah diadopsi. Proses ini mengubah
sisa makanan seperti sayur, kulit buah, ampas kopi, dan cangkang telur menjadi
pupuk organik kaya nutrisi melalui penguraian aerobik.
Persoalannya,
sampah organik Makassar sesungguhnya tidak menuntut teknologi mahal. Ember
tumpuk bekas, mini komposter, atau metode teba sederhana sudah cukup untuk
mengubah sisa makanan di dapur menjadi pupuk. Pemerintah pun sebenarnya telah
menyediakan fasilitas melalui program Teba Modern, di mana lubang kompos yang
diperkuat beton dan dirancang menguraikan sampah organik tanpa bau. Namun,
fasilitas semacam ini belum menjangkau cukup banyak rumah tangga. Di sinilah
letak persoalannya: solusinya sudah ada, tetapi belum menjadi kebiasaan.
Misalnya,
program Jelajah Sampah DLH Makassar sejak Juni 2026 memang telah menyentuh 14
kecamatan, membawa edukasi dan pelatihan tentang pembuatan kompos melalui
biopori dan komposter, pengolahan sampah organik dengan maggot, hingga
pembuatan eco-enzyme. Namun, jika
dilihat dari sudut pandang darurat sampah, capaian 1.506,22 kilogram sampah
yang terkumpul justru membuka mata: jumlah itu hanya setara 1,5 ton, tidak
sampai 0,2 persen dari 800--1.000 ton sampah harian Makassar.
Hal itu
berarti, edukasi seperti ini penting, tetapi belum cukup jika berhenti sebagai
program seremonial. Namun, harus diperluas, dilembagakan di tingkat RT/RW, dan
diukur dari perubahan perilaku harian warga, bukan hanya dari banyaknya sampah
yang berhasil dikumpulkan dalam satu kegiatan.
Meski
begitu, jika setiap rumah tangga mengolah sampah organiknya sendiri, volume
sampah yang masuk ke TPA bisa berkurang signifikan. Yang menarik, hasil olahan
sampah organik kini memiliki nilai ekonomi. Sejak 8 Juni 2026, Bank Sampah
Pusat Makassar menerima kompos kering dengan harga Rp1.000 per kilogram, kompos
basah Rp500 per kilogram, dan kasgot Rp8.000 per kilogram.
Kehadiran
skema pembelian ini sesungguhnya menjadi terobosan yang selama ini
ditunggu-tunggu. Selama bertahun-tahun, persoalan terbesar pengelolaan sampah
organik di tingkat rumah tangga bukanlah ketiadaan pengetahuan, melainkan
ketiadaan pasar. Warga enggan mengolah sampah karena tidak tahu harus menjual
hasilnya ke mana.
Kini,
ketika kompos dan kasgot memiliki harga yang jelas, insentif ekonomi itu telah
lahir. Dengan 369 bank sampah unit yang tersebar di berbagai titik di Makassar,
seharusnya tidak ada lagi alasan bagi warga untuk tidak memilah sampahnya.
Eco-Enzyme: Fermentasi Sisa Buah dan Sayur
Eco-enzyme adalah cairan
multifungsi hasil fermentasi sisa buah dan sayuran segar dengan gula merah dan
air. Perbandingannya 1 bagian gula, 3 bagian sisa buah atau sayur, dan 10
bagian air, difermentasi selama 90 hari. Perlu ditegaskan: eco-enzyme tidak dibuat dari sisa makanan bersaus atau berminyak,
melainkan dari sisa buah dan sayur segar agar fermentasi berhasil. Eco-enzyme dapat dimanfaatkan sebagai
pembersih serbaguna, pupuk tanaman, dan pestisida organik.
Di
Makassar, inisiatif ini telah tumbuh dari bawah. Yang dilakukan Mashud Azikin,
Pjs Ketua RW 7 di Kelurahan Biring Romang, Kecamatan Manggala, sesungguhnya
adalah bukti bahwa perubahan besar memang bisa dimulai dari langkah kecil. Ia
telah mengenalkan eco-enzyme kepada
sekitar 300 kepala keluarga di wilayahnya, sebuah angka yang tidak kecil untuk
ukuran inisiatif akar rumput.
Sebagai
lulusan Jurusan Kimia FMIPA Universitas Hasanuddin, ia tidak hanya berbicara di
atas panggung, tetapi turun langsung mengedukasi warga melalui Komunitas
Manggala Tanpa Sekat, yang telah konsisten bergerak di bidang persampahan
selama lima tahun. Bahkan, ia secara rutin menyiram kolam limbah di TPA Antang
menggunakan eco-enzyme agar bau tak
menyengat.
Yang
dilakukan Mashud menunjukkan bahwa ilmu kimia tidak harus berhenti di
laboratorium, ia bisa turun ke dapur warga dan menyelesaikan masalah kota.
"Semua terhubung. Sampah dikelola, jadi eco-enzyme. Eco-enzyme dipakai
di kebun urban farming. Ini bagian
dari ekonomi sirkular," jelasnya. Dan memang, di situlah letak
kekuatannya: bukan sekadar mengurangi sampah, tetapi membangun kesadaran bahwa
setiap rumah tangga adalah simpul penting dalam rantai ekonomi sirkular yang
selama ini kita abaikan.
Contoh
lain datang dari Kelurahan Batua. Sabir Dolo, Pjs Ketua RT 04/RW 09,
membuktikan bahwa kepemimpinan di tingkat paling kecil justru bisa berdampak
paling besar. Ia menginisiasi program pengelolaan sampah berbasis rumah tangga
yang kini menjadi contoh di lingkungannya, sebuah model yang seharusnya
direplikasi di ratusan RT lain di Makassar.
Dalam
program itu, setiap rumah tangga diminta memilah sampahnya: sampah organik
diolah menjadi eco-enzyme, sedangkan
sampah anorganik ditabung di bank sampah RT. Sabir juga mengenalkan pemanfaatan
ember tumpuk untuk membuat pupuk organik dari sampah rumah tangga, yang
kemudian digunakan untuk menanam sayuran di pekarangan warga.
Yang
menarik, program ini tidak berhenti pada persoalan kebersihan. Ia perlahan
mengubah cara warga memandang sampah, dari sesuatu yang menjijikkan menjadi
sesuatu yang bernilai. Dan yang lebih penting, program yang dijalankan Sabir
bukan hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga mempererat
hubungan sosial antarwarga.
Di
tengah kota yang semakin individualistis, inisiatif semacam ini mengingatkan
kita bahwa pengelolaan sampah sesungguhnya adalah kerja kolektif, sebuah
pernyataan bahwa tidak ada rumah tangga yang bisa menyelesaikan krisis sampah
sendirian.
Dari Sampah Menjadi Rupiah
Kombinasi
kompos dan eco-enzyme menciptakan
sistem zero waste di tingkat rumah
tangga. Sisa makanan menjadi kompos, sisa buah dan sayur menjadi eco-enzyme. Yang lebih menarik, hasil
olahan ini kini memiliki pasar. Bank Sampah Pusat Makassar telah membuka skema
pembelian hasil olahan organik, dan ratusan bank sampah unit siap menampung.
Pemkot
Makassar juga telah menerbitkan Perwali Nomor 13 Tahun 2025 yang membebaskan
retribusi sampah bagi rumah tangga berpenghasilan rendah dengan daya listrik
450 VA dan 900 VA. Kebijakan ini mulai berlaku Juli 2025 dan telah menjangkau
puluhan ribu keluarga berpenghasilan rendah.
Langkah
ini menunjukkan bahwa pemerintah mulai memahami bahwa pengelolaan sampah yang
berkeadilan harus dimulai dari hulu. Namun, regulasi saja tidak cukup. Perlu
pendampingan berkelanjutan, pelatihan rutin di tingkat RT/RW, dan insentif
nyata bagi warga yang berhasil mengurangi sampah organiknya.
Dari Dapur untuk Masa
Depan Makassar
TPA
Antang tidak bisa menunggu PSEL selesai pada 2029. Setiap hari tanpa pengolahan
sampah organik dari rumah tangga berarti bertambahnya beban metana, lindi, dan
risiko kebakaran. Mulailah dari dapur sendiri. Pisahkan sisa makanan dan sisa
buah atau sayur. Buat komposter sederhana dari ember bekas, dan mulai
fermentasi eco-enzyme dalam wadah
plastik tertutup.
Bagi
komunitas, galakkan pelatihan dan bank sampah organik di tingkat RT/RW. Bagi
pemerintah, pastikan komposter yang disiapkan benar-benar sampai ke rumah
tangga dan hasil olahannya dijemput secara rutin.
Mengelola
sampah organik bukan sekadar kewajiban lingkungan, melainkan investasi kecil
dari dapur kita untuk masa depan Makassar yang lebih sejuk, bersih, dan
berkelanjutan. Darurat sampah Makassar tidak akan selesai dengan menambah
armada atau memperluas TPA. Namun, akan selesai ketika setiap dapur berhenti
mengirim sampah organiknya ke Antang.
Penulis : Harry Yulianto, Dosen STIE YPUP Makassar.
