![]() |
| Dosen IKM UNIMA Fuad Hilmi Sudasman memberikan edukasi pengelolaan sampah plastik kepada guru Sekolah Alam Manado. |
MANADO - Upaya mewujudkan pengelolaan sampah berkelanjutan terus dilakukan di lingkungan pendidikan.
Salah satunya melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang digelar dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) Universitas Negeri Manado (UNIMA), Fuad Hilmi Sudasman, di Sekolah Alam Manado.
Kegiatan bertajuk “Edukasi dan Pemanfaatan Mesin Pencacah Plastik dalam Pengelolaan Sampah Berkelanjutan” tersebut berlangsung pada Kamis (20/8/2026).
Program ini merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan tersebut terlaksana dengan dukungan pendanaan dari Hibah PNBP UNIMA Tahun 2026.
Sebanyak 10 guru Sekolah Alam Manado serta sejumlah orang tua siswa mengikuti kegiatan tersebut.
Program ini sekaligus melengkapi sistem pengelolaan sampah yang sebelumnya telah diterapkan di Sekolah Alam Manado.
Selama ini, sekolah telah memiliki sistem pengolahan sampah organik secara mandiri.
Melalui program pengabdian ini, pengelolaan sampah kemudian diperluas dengan memberikan perhatian pada pemilahan sampah plastik dan pengolahan sampah anorganik menggunakan teknologi tepat guna.
Pelaksana kegiatan sekaligus dosen IKM UNIMA, Fuad Hilmi Sudasman, mengatakan integrasi pengelolaan sampah organik dan anorganik penting untuk menciptakan lingkungan sekolah yang minim sampah atau zero waste.
“Sekolah Alam Manado sebelumnya sudah memiliki fondasi yang baik dalam pengolahan sampah organik. Melalui pengabdian masyarakat ini, kami melengkapinya dari sisi pengelolaan sampah anorganik,” ujar Fuad.
Menurutnya, edukasi mengenai pemilahan sampah plastik perlu dilakukan sejak dini.
Dengan adanya mesin pencacah plastik, sampah yang sebelumnya berpotensi menumpuk dapat diproses menjadi bahan baku untuk kebutuhan daur ulang.
“Dengan edukasi pemilahan sampah plastik sejak dini dan pemanfaatan mesin pencacah plastik ini, limbah plastik yang dulunya menumpuk kini dapat diolah langsung menjadi bahan baku daur ulang yang bernilai guna,” katanya.
Kepala Sekolah Alam Manado, Sri Isyana, menyambut positif program yang diberikan tim pengabdian dosen IKM UNIMA.
Menurutnya, edukasi dan fasilitas mesin pencacah plastik tersebut menjadi pelengkap sistem pengelolaan sampah yang telah berjalan di sekolah.
“Edukasi ini menjadi penyempurna bagi sistem pengelolaan sampah di sekolah kami. Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Fuad Hilmi Sudasman dan UNIMA atas fasilitasi alat serta dukungan pendanaan Hibah PNBP UNIMA 2026,” ungkap Sri.
Ia mengatakan, 10 guru yang mengikuti pelatihan nantinya diharapkan menjadi penggerak utama dalam mendampingi siswa.
Pendampingan tersebut mencakup proses pemilahan sampah plastik hingga pengoperasian mesin pencacah secara aman dan produktif.
Dengan demikian, edukasi mengenai pengelolaan sampah tidak hanya berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat diterapkan dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan sekolah.
Kolaborasi antara sistem pengolahan sampah organik yang telah berjalan dengan pengolahan sampah plastik diharapkan dapat mengurangi volume sampah harian di Sekolah Alam Manado.
Tidak hanya untuk menjaga kebersihan lingkungan, hasil cacahan plastik juga direncanakan dimanfaatkan sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran.
Pemanfaatannya antara lain melalui pembelajaran berbasis proyek atau project-based learning.
Hasil cacahan plastik juga dapat dikembangkan menjadi bahan untuk produk kerajinan daur ulang.
Langkah tersebut sekaligus menjadi sarana untuk mengenalkan prinsip circular economy kepada siswa sejak berada di lingkungan sekolah.
Melalui program ini, pengelolaan sampah di Sekolah Alam Manado diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan menjaga kebersihan.
Lebih dari itu, pengelolaan sampah dapat menjadi bagian dari proses pendidikan yang mengajarkan siswa mengenai pemilahan, pemanfaatan kembali, daur ulang, serta pentingnya menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
