![]() |
| Ilustrasi Gambar Etika Public Speaking |
Kitanotice, Opini - Pernah melihat seseorang yang pandai berbicara, tetapi cara penyampaiannya justru membuat orang lain merasa tidak nyaman? Atau seseorang yang sangat percaya diri saat menyampaikan pendapat, tetapi kurang memperhatikan kebenaran informasi yang dibicarakan? Hal seperti ini menunjukkan bahwa kemampuan berbicara saja belum cukup untuk menjadi komunikator yang baik.
Di era sekarang, kemampuan berbicara di depan umum atau public speaking
semakin dibutuhkan. Kemampuan ini tidak hanya penting bagi mahasiswa yang
sedang melakukan presentasi di kelas, tetapi juga bagi pekerja, pelaku usaha,
pembicara seminar, hingga pengguna media sosial yang ingin menyampaikan
pendapat kepada banyak orang.
Namun, ada satu hal yang sering kali terlupakan ketika seseorang belajar
public speaking, yaitu etika. Banyak orang berusaha agar bisa berbicara dengan
lancar, percaya diri, dan menarik perhatian audiens. Padahal, cara menyampaikan
pesan, menghargai pendengar, dan bertanggung jawab atas perkataan juga menjadi
bagian penting dalam komunikasi.
Berani Bicara Harus Disertai Tanggung Jawab
Salah satu tujuan public speaking adalah menyampaikan pesan agar dapat
dipahami oleh orang lain. Karena itu, seorang pembicara perlu memperhatikan isi
pembicaraannya, bukan hanya cara berbicaranya.
Misalnya, ketika menyampaikan pendapat mengenai suatu masalah, pembicara
sebaiknya menggunakan informasi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Jangan sampai informasi yang belum terbukti kebenarannya disampaikan
seolah-olah merupakan fakta hanya agar pembicaraan terdengar menarik.
Hal ini semakin penting ketika seseorang berbicara di depan banyak orang.
Informasi yang keliru dapat menimbulkan kesalahpahaman, memengaruhi cara
berpikir audiens, bahkan merugikan pihak tertentu.
Oleh karena itu, sebelum berbicara, kita perlu memahami topik yang akan
disampaikan. Jika belum mengetahui jawabannya, tidak ada salahnya mengakui
bahwa kita masih perlu mencari informasi lebih lanjut. Sikap tersebut justru
menunjukkan kejujuran dan tanggung jawab seorang pembicara.
Menghargai Audiens Juga Bagian dari Etika
Etika dalam public speaking juga terlihat dari cara pembicara
memperlakukan audiens. Ketika berada di depan banyak orang, seseorang mungkin
menjadi pusat perhatian. Namun, hal itu bukan berarti pembicara boleh merasa
paling benar atau merendahkan pendapat orang lain.
Menggunakan bahasa yang mudah dipahami, berbicara dengan sopan, serta
tidak meremehkan pertanyaan audiens merupakan contoh sederhana dari komunikasi
yang beretika. Pembicara juga perlu menyesuaikan bahasa dengan siapa yang
mendengarkan agar pesan dapat diterima dengan baik.
Selain itu, perbedaan pendapat harus disikapi dengan bijak. Tidak semua
orang akan setuju dengan apa yang kita sampaikan. Ketika ada audiens yang
memberikan kritik atau pandangan berbeda, kita sebaiknya mendengarkan terlebih
dahulu sebelum memberikan tanggapan.
Kemampuan menerima kritik menunjukkan bahwa komunikasi bukan hanya
tentang menyampaikan apa yang kita pikirkan, tetapi juga memahami sudut pandang
orang lain. Dengan begitu, suasana komunikasi menjadi lebih nyaman dan saling
menghargai.
Jangan Menjadikan Humor sebagai Alasan untuk
Menyinggung Orang Lain
Humor sering digunakan dalam public speaking agar suasana menjadi lebih
santai dan audiens tidak merasa bosan. Penggunaan humor yang tepat memang dapat
membantu menarik perhatian pendengar. Namun, humor tetap memiliki batas yang
perlu diperhatikan.
Terkadang, seseorang menjadikan bentuk tubuh, kondisi ekonomi, pekerjaan,
atau kehidupan pribadi orang lain sebagai bahan candaan. Pembicara mungkin
menganggapnya lucu, tetapi orang yang menjadi bahan pembicaraan belum tentu
merasakan hal yang sama.
Karena itu, penting untuk memahami perbedaan antara humor yang menghibur
dan candaan yang merendahkan. Seorang pembicara dapat membuat audiens tertawa
tanpa harus mempermalukan orang lain.
Etika ini juga berkaitan dengan kepekaan terhadap situasi. Candaan yang
dianggap biasa dalam lingkungan pertemanan belum tentu pantas disampaikan dalam
forum resmi atau di hadapan audiens yang beragam. Pembicara yang baik perlu
mengetahui kapan humor dapat digunakan dan kapan sebaiknya dihindari.
Public Speaking di Media Sosial Juga
Membutuhkan Etika
Saat ini, public speaking tidak hanya dilakukan di atas panggung. Video
pendek, podcast, siaran langsung, webinar, dan berbagai platform digital telah
menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan gagasan kepada publik.
Melalui media sosial, seseorang dapat berbicara kepada audiens yang
jumlahnya jauh lebih besar daripada orang-orang yang berada di hadapannya
secara langsung. Namun, jangkauan yang luas tersebut juga membawa tanggung
jawab yang lebih besar.
Ucapan yang disampaikan dalam sebuah video dapat direkam, dipotong,
dibagikan ulang, dan ditonton oleh banyak orang. Karena itu, perkataan yang
disampaikan tanpa pertimbangan dapat menimbulkan kesalahpahaman atau memicu
perdebatan yang tidak perlu.
Sebelum menyampaikan pendapat di ruang digital, kita perlu membiasakan
diri untuk memeriksa informasi, menggunakan bahasa yang pantas, serta
mempertimbangkan dampak perkataan terhadap orang lain. Berbeda pendapat
bukanlah sesuatu yang salah, tetapi menyampaikan pendapat tetap perlu dilakukan
dengan cara yang bertanggung jawab.
Kebebasan berbicara seharusnya tidak dijadikan alasan untuk menyebarkan
informasi yang keliru atau menyerang orang lain. Justru, semakin luas jangkauan
komunikasi seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya dalam menggunakan
kata-kata.
Public Speaking yang Baik Bukan yang Paling
Banyak Bicara
Pada akhirnya, kemampuan public speaking bukan hanya tentang siapa yang
paling lantang, paling percaya diri, atau paling banyak berbicara. Kemampuan
tersebut juga terlihat dari bagaimana seseorang menyampaikan pesan dengan
jelas, menghargai audiens, dan bersedia mendengarkan tanggapan orang lain.
Mendengarkan sering kali dianggap sebagai hal sederhana, padahal menjadi
bagian penting dalam komunikasi. Ketika seseorang bersedia mendengarkan, ia
memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pendapat dan merasa
dihargai.
Bagi mahasiswa, etika public speaking dapat mulai diterapkan melalui
hal-hal sederhana, seperti tidak memotong pembicaraan teman saat presentasi,
menyampaikan kritik dengan sopan, menggunakan sumber informasi yang jelas,
serta tidak menertawakan orang yang melakukan kesalahan ketika berbicara.
Kebiasaan tersebut dapat menjadi bekal penting, bukan hanya selama
menjalani perkuliahan, tetapi juga ketika memasuki dunia kerja dan berinteraksi
dengan masyarakat.
Di tengah perkembangan teknologi yang membuat setiap orang semakin mudah
menyampaikan pendapat, etika seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan
dari kemampuan berkomunikasi. Berbicara dengan percaya diri memang penting,
tetapi berbicara dengan bijak jauh lebih bermakna.
Jadi, sebelum belajar bagaimana berbicara agar didengar banyak orang,
kita perlu belajar bagaimana menyampaikan pesan tanpa merugikan orang lain.
Sebab, public speaking yang baik bukan hanya membuat orang mau mendengarkan
kita, tetapi juga membuat mereka merasa dihargai setelah mendengarkan kita.
Penulis : Dela Ainu Rohma, Universitas Pamulang,Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
